TOTAL QUALITY MANAJEMEN (TQM) PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
TOTAL QUALITY MANAJEMEN (TQM) PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah
“Manajemen Mutu Pendidikan Islam”

Dosen Pengampu:
Dr. Moh. Miftachul Choiri, M.A
Disusun oleh:
Mualifah Khoirunnisa
502210026
MPI B1
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
PASCA SARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO
2021
A. Pendahuluan
TQM atau Total Quality Management juga bisa disebut dengan Manajemen Kualitas Menyeluruh merupakan sebuah strategi yang bertujuan untuk menanamkan kesadaran pentingnya kualitas pada semua proses di organisasi, tidak hanya pada hasilnya saja. TQM merupakan suatu pendekatan manajemen yang terfokus pada kualitas berdasarkan partisipasi semua anggotanya, dan bertujuan mencapai kesuksesan jangka panjang. Yaitu kepuasan pelanggan juga keuntungan untuk semua pihak dalam organisasi dan masyarakat.
Awalnya TQM cukup populer di perusahaan swasta dan negara, sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan daya kompetitif yang mengedepankan kualitas. Karena suksesnya TQM pada perusahaan-perusahaan, maka lembaga pendidikan Islam mulai mencoba untuk mengadobsi konsep tersebut. TQM yang diterapkan di lembaga pendidikan Islam ini harapannya dapat mendorong kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.
Kenyataannya penggunaan TQM di lembaga pendidikan Islam di Indonesia masih jarang. Sehingga perlu ilmu dan pengertahuan terkait konseptersebut. Maka tulisan ini akan membahas konsep TQM secara umum, TQM pada lembaga pendidikan Islam, implementasi dan juga implikasinya terhadap lembaga pendidikan Islam.
B. Pembahasan
1. Konsep Total Quality Manajemen
Untuk memahami konsep total quality manajemen akan dijabarkan pengertian dari kualitas (quality), kualitas terpadu (Total Quality) dan manajemen kualitas terpadu (Total Quality Management). Kualitas sering disamakan dengan mutu, yaitu seseuatu yang sulit didefinisikan tetapi fenomena dan tanda-tandanya dapat dilihat dan dirasakan.[1] Sedangkan kualitas terpadu yaitu aktivitas perbaikan secara terus menerus yang melibatkan semua orang di dalam organisasi, baik manajer maupun semua staf-stafnya dalam berusaha secara terintegrasi mencapai kinerja yang terus meningkat pada setiap tingkatan.[2] Dan TQM adalah system manajemen yang menyangkut kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi kepada kepuasaan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi.[3] Jadi dapat disimpulkan bahwa TQM adalah sebuah sistem manajemen yang melibatkan seluruh anggota organisasi untuk meningkatkan kualitas dan memberikan kepuasa kepada pelanggan.
TQM merupakan sebuah sistem manajemen yang memiliki 10 unsur. Yakni: fokus pada pelanggan, obsesi terhadap kualitas, pendekatan ilmiah, komitmen jangka panjang, kerja sama tim, perbaikan terus-menerus, pendidikan dan pelatihan, kebebasan yang terkendali, kesatuan tujuan, dan keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.[4] Maka sebuah organisasi/lembaga dikatakan telah menggunakan sistem TQM bila telah memenuhi 10 unsur tersebut.
Selain 10 unsur TQM di atas, juga ada prinsip pokok dalam TQM, keempat prinsip tersebut adalah: kepuasan pelanggan, respek terhadap setiap orang, manajemen berdasarkan fakta, dan perbaikan berkesinambungan.[5] Keempat prinsip TQM tersebut menjadi dasar dalam pelaksanaan TQM di suatu organisasi atau lembaga.
Jadi penulis menyimpulkan bahwa TQM adalah sebuah sistem manajemen yang memiliki 10 unsur yang fokus pada kepuasan pelanggan. Kepuasan pada pelanggan pada TQM dicapai dengan memegang 4 prinsip pokok TQM.
Setelah memenuhi unsur dan prinsip pokok TQM di atas, nyatanya masih amat mungkin pelaksanaan TQM pada suatu organisasi/lembaga dinyatakan gagal. Berikut beberapa kesalahan yang menyebabkan kegagalan TQM: delegasi dan kepemimpinan yang tidak baik dari manajemen senior, proses penyebarluasan, menggunakan pendekatan yang terbatas dan dogmatis, harapan yang tidak realistis, dan empowerment yang prematur.[6] Kegagalan dalam pelaksanaan TQM tersebut perlu untuk diketahui dan dihindari agar pelaksanaan TQM pada suatu lembaga atau organisasi berjalan sesuai dengan harapan.
Pemaparan di atas menggambarkan konsep TQM secara umum, baik pada perusahaan, organisasi, atau lembaga pendidikan. Maka bila TQM diterapkan pada sebuah lembaga pendidikan akan terdapat beberapa penyesuaian. Bisa saja implementasi TQM pada lembaga pendidikan Islam berbeda dengan konsep TQM yang telah dipaparkan di atas, karena telah melalui beberapa penyesuaian.
2. Total Quality Manajemen Pada Lembaga Pendidikan Islam
Seiring dengan perubahan jaman, kualitas dari sebuah lembaga pendidikan Islam juga harus ditingkatkan. TQM merupakan salah satu model yang banyak digunakan untuk meningkatkan mutu pendidikan di lembaga pendidikan.TQM dianggap menjadi model yang efektif untuk mencapai tujuan pendidikan. Karena TQM memberi perhatian lebih terhadap integrasi semua fungsi dan proses serta memberdayakan juga melibatkan semua unsur yang ada pada lembaga pendidikan. Sehingga tercapai kepuasan dari siswa, guru, tenaga pendidik, juga masyarakat.
Ada beberapa alasan yang melatar belakangi diterapkannya TQM di lembaga pendidikan Islam. Yaitu: Pertama, para pendidik yang merupakan faktor utama bagi peningkatan mutu sekolah. Kedua, pendidikan membutuhkan proses pemecahan masalah yang fokus pada penyebab utama penimbul masalah. Ketiga, organisasi sekolah harus menjadi model organisasi belajar bagi organisasi lain. Keempat, sangat mungkin bahwa melalui TQM di sekolah-sekolah orang orang dapat menemukan alasan mengapa sistem pendidikan yang ada saat ini tidak berjalan dengan baik. Penerapan TQM mungkin dapat memberikan sistem yang lebih baik.[7] Itu beberapa alasan yang melatarbelakangi penggunaan TQM di lembaga pendidikan Islam. Dalam Q.S al-Baqarah ayat 208 berbunyi:
“udhulu fi silmi kaffah”
Yang bila diftarsikan secara luas artinya menganjurkan kepada manusia untuk memberikan sesuatu secara menyeluruh atau totalitas. Maka penulis menyimpulkan bahwa penerapan manajemen mutu atau TQM pada lembaga pendidikan Islam dirasa harus dilakukan. Agar mutu pendidikan Islam selalu meningkat, berkelanjutan, terus-menerus, dan terpadu. Ini bertujuan agar lembaga pendidikan Islam tetap eksis, tidak kalah bersaing dan diminati masyarakat.
3. Implementasi Total Quality Manajemen Pada Lembaga Pendidikan Islam
Upaya peningkatan mutu pendidikan Islam melalui penerapan TQM dapat diwujudkan dengan langkah-langkah berikut ini:
a. Fokus pada pelanggan (costumer focus)
Sekolah merupakan lembaga yang memberikan pelayanan sesuai dengan permintaan pelanggan. Maka memahami, memuaskan, dan melampaui kebutuhan dan harapan pelanggan adalah tujuan utamanya.[8] Kepuasan pelanggan berhubungan erat denan kualitas pelayanan suatu organisasi. Semakin baik organisasi, semakin puas pelanggannya begitu juga sebaliknya.[9] Pelanggan dalam pendidikan adalah seseorang yang menggunakan jasa organisasi sekolah. Ada pelanggan internal dan pelanggan eksternal. Guru, staf dan karyawan merupakan pelanggan internal. Sedangkan masyarakat, pemerintah dan industri merupakan pelanggan eksternal.[10] Dalam haist Rasulullah saw. bersabda:
“man kana yu’minu billahi wal yaumil akhiri fal yukrim dhoifahu”
Maksud dari hadis di atas adalah pelanggan diibaratkan sebagai tamu yang harus kita layanin dengan sebaik-baiknya. Jadi TQM pada lembaga pendidikan Islam dapat dilakukan dengan mengetahui, memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan dari pelanggan pelanggan pendidikan Islam tersebut.
b. Obsesi terhadap kualitas
Kepala sekolah, guru, dan karyawan sekolah harus memiliki pamahaman yang sama terhadap istilah-istilah TQ, seperti kualitas, kerusakan, pelayanan yang baik, pelayanan yang merugikan, customer dan lain-lain.[11] Yang paling ditekankan adalah fokus pada pelanggan. Ini karena lembaga pendidikan Islam merupakan lembaga yang memberikan pelayanan kepada pelanggan, maka lembaga pendidikan Islam harus memahami, memuaskan, dan melampaui kebutuhan dan harapan dari pelanggan. Lembaga pendidikan Islam yang unggul akan selalu menjaga kedekatan dengan pelanggan serta memiliki ketertarikan (obsesi) terhadap kualitas.[12] Dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 197 berbunyi:
“Watazawwadu fa inna khoira zaadi taqwa”
Maksudnya adalah anjuran untuk selalu meningkatkan kualitas ketaqwaan. Begitu juga dengan konteks yang lainnya. Jadi penulis menyimpulkan bahwa lembaga organisasi terlebih lagi organisasi pendidikan seperti sekolah yang bergerak dalam memberikan pelayanan harus memiliki keinginan dan obsesi terhadap kualitas layanan yang terbaik. Karena kualitas organisasi yang baik akan menghasilkan kualitas yang baik pula.
c. Manajemen berdasarkan fakta
TQM mendorong pelaku pendidikan untuk mengumpulkan dan menganlisis data secara berkelanjutan sehingga pengambilan keputusan sekolah didasarkan atas data faktual dan bukan faktor acak.[13] Adanya pendekatan ilmiah yang ada pada TQM membuat pihak lembaga sekolah dapat mengetahui apa saja yang diperlukan dalam hal pemenuhan kualitas lembaga sekolah. Semua hal dalam pendekatan ilmiah dapat digunakan untuk mengetahui masalah yang ada di sekolah, langkah apa yang dilakukan paling tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dengan demikian sekolah dapat membuat rencana untuk meningkatkan prestasi siswa dan melakukan perbaikan yang tepat..[14] Dalam Q.S al-Hujurat ayat 12 berbunyi:
“Ya ayyuha ladzina aamanu ijtanibu katsiron minadzonni inna ba’ddo dzoonni itsmun”
Yang maksudnya adalah menghindari berprasangka dan harus melihat fakta. Karena sebagian dari prasangka adalah dosa. Jadi penulis menyimpulkan bahwa lembaga pendidikan Islam yang menerapkan TQM harus melakukan manajemen berdasarkan fakta lapangan yang aktual. Ini berarti sekolah tidak hanya menduga-duga masalah yang sedang dihadapi, atau menganggap sama dengan yang telah terjadi di tahun lalu. Namun lembaga pendidikan Islam memiliki data yang akurat terkait masalah-masalah, penyelesaian, keinginan masyarakat dan lainnya. Sehingga lembaga pendidikan Islam ini bertindak sesuai fakta data di lapangan.
d. Komitmen jangka panjang
Total Quality Management memerlukan perubahan kultur dalam sikap dan metode. Ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Staf dalam institusi pendidikan Islam harus memahami dan melaksanakan pesan moral Total Quality Management agar bisa membawa dampak. Kultur yang dimaksud adalah tentang merubah perilaku staf, dan cara mengarahkan sebuah institusi pendidikan Islam.[15] Dalam Q.S al-Hasyr ayat 18 berbunyi:
“Ya ayyuhal ladzina amaanu ittaqu allaha wal tandzur nafsun maqaddamat li ghod”
Ayat tersebut menganjurkan untuk melihat masa depan dan mempersiapkannya. Jadi disimpulkan bahwa Penerapan TQM memerlukan perubahan kultur dalam sikap dan metode. Dan ini membutuhkan waktu yang lama, sehingga perlu ada komitmen dari seluruh anggota organisasi sekolah untuk bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan di lembaga pendidikan Islam.
e. Kerjasama tim
Dalam lembaga pendidikan Islam mutu lembaga bukan hanya tanggung jawab kepala sekolah, tetapi semua pihak harus bertanggung jawab. Keterlibatan setiap anggota sekolah dalam kerja sama, tanggung jawab, kreativitas, dan kewajiban akan meningkatkan kualitas sekolah.[16] Dalam TQM, kerjasama harus dibina dan dijalin oleh semua pihak yang bersangkutpautan dengan perusahaan tersebut. Rasulullah SAW pernah bersabda :“Seorang muslim dengan muslim yang lainnya itu bagaikan satu bangunan yang kokoh, atau bagaikan satu tubuh dan anggotanya, apabila yang satu sakit, maka yang lainnya akan ikut merasakan”.[17] Rasulullah saw. bersabda:
“al mu’minu lil mu’mini kan bunyanu yasuddu ba’duhu ba’don”
Kerjasama tim ini yang menjadi salah satu kunci keberhasilan TQM pada lembaga pendidikan. Maka tanggung jawab peningkatan mutu bukan hanya tugas kepala sekolah atau penjamin mutu sekolah. Melainkan tugas dan tanggung jawab dari semua anggota organisasi secara bergotong-royong.
f. Keterlibatan dan pemberdayaan pegawai
Keterlibatan dan pemberdayaan pegawai merupakan hal penting dalam penerapan TQM. Usaha untuk melibatkan pegawai membawa dua manfaat utama. Pertama, hal ini akan meningkatkan kemungkinan dihasilkannya keputusan, rencana, atau perbaikan yang lebih efektif karena juga mencakup pandangan dan pemikiran dari pihak yang langsung berhubungan dengan situasi kerja. Kedua, keterlibatan pegawai juga meningkatkan rasa memiliki dan tanggungjawab atas keputusan dengan melibatkan orang-orang yang harus melaksanakannya. Pemberdayaan bukan sekedar berarti melibatkan pegawai tetapi juga melibatkannya dengan memberikan pengaruh yang sungguh berarti.[18] Q.S al-Ahqaf ayat 19 berbunyi:
“wa likulli darojatun mimma amilu, wa liyuwaffiyahum a’malahum wahum la yudlamun”
Ayat tersebut menganjurkan untuk memberikan porsi seuai kemampuan agar tidak merugikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa TQM pada lembaga pendidikan Islam dilakukan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi. Mereka diikut sertakan dalam setiap upaya dan pengambilan keputusan yang dilakukan di sekolah. Ini juga menjadikan keputusan lebih efektif karena disusun oleh semua orang yang terlibat dalam lapangan.
g. Perbaikan proses secara berkesinambungan
Sebuah lembaga pendidikan Islam atau institusi pendidikan harus melakukan inovasi secara konstan, melakukan perbaikan dan perubahan secara terarah, dan akan mengalami siklus perbaikan secara terus-menerus.[19] Perbaikan terus-menerus mendorong sekolah untuk mencapai tujuannya dan memenuhi harapan semua pihak dengan menganalisis kondsi sekolah dan menciptakan cara-cara efektif yang sesuai untuk dilaksanakan. Lembaga sekolah memerlukan perencanaan tentang apa yang diharapkan dari lembaga sekolah tersebut ke depannya. Semua pihak lembaga sekolah ikut andil demi tercapainya rencana sekolah. Budaya atau aturan harus bersifat konstan dari waktu ke waktu demi terwujudnya kualitas lembaga sekolah.[20] Rasulullah saw. bersabda:
“man kana yaumuhu khoiran min amsihi fahua robihun, wa man kana yaumuhu sawaun min amsihi fa hua magbunun, wa man kana yaumuhu sarrun min amsihi fa hua mal nguunun”
Dari hadisttersebut diambil makna bahwa lembaga pendidikan Islam harus selalu lebih baik dan terus lebih baik. Jadi perbaikan yang dilakukan oleh lembaga pendidikan Islam tidak sesaat setelah itu usai. Namun dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Dilakukan evaluasi lalu diperbaiki. Begitu seterusnya. Tidak berhenti pada suatu tahap meskipun telah dinilai bagus.
h. Adanya pendidikan dan pelatihan yang bersifat bottom-up
Dapat dilakukan dengan program diklat. Ini merupakan langkah-langkah persiapan pemberdayaan bagi seluruh guru dan karyawan. Dalam pemberdayaan ini seluruh guru dan karyawan diberi kepercayaan, tugas, wewenang dan tanggung jawab untuk mengorganisasikan diri mereka masing-masing kedalam self-managing teams guna memperbaiki proses dalam mencapai mutu produk dan jasa.[21] Dalam al-Qur’an surah az-Zumar ayat 9 berbunyi:
“qul hal yastawil ladzina ya’lamuuna walladzina laa ya’lamuuna, innama yatadzakkaruna ulul albab”
Ayat tersbeut mengandung makna bahwa orang memiliki kemampuan yang berbeda, dan hanya orang yang berakallah yang selalu mampu menerima pelajaran. Jadi pada TQM juga memperhatikan kualitas dari setiap anggota organisasi. Maka perlu dilakukan diklat, pelatihan atau seminar untuk meningkatkan kualitas dirinya.
i. Kebebasan yang terkendali
Dalam TQM, keterlibatan dan pemberdayaan karyawan dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah merupakan unsur yang sangat penting. Hal ini dikarenakan unsur tersebut dapat meningkatkan rasa memiliki dan tanggungjawab karyawan terhadap keputusan yang telah di buat. Selain itu, unsur ini juga dapat memperkaya wawasan dan pandangan dalam suatu keputusan yang diambil, karena pihak yang terlibat lebih banyak.[22] Rasulullah saw. bersabda:
“i’mal lidunyaka kaannaka tangisyu abadan, wa’mal liakhirotaka kaannaka tamuutu ghodan”
Jadi disimpulkan bahwa Seluruh anggota sekolah termasuk guru dan karyawan diberikan tanggung jawab dan juga wewenang untuk membuat keputusan. Asalkan tidak keluar dari ketentuan yang telah disepakati dan dibawah pantauan kepala sekolah.
j. Adanya kesatuan tujuan
Dengan visi dan misi yang ada maka pihak sekolah memiliki cara tersendiri untuk menciptakan tujuan yang sama. Pemikiran tujuan yang sama akan menghasilkan kualitas sekolah yang sesuai dengan harapan.[23] Ini menjadikan manager puncak atau kepala sekolah adalah dimensi kunci dimana kualitas lembaga pendidikan Islam bergantung. Maka kepala sekolah perlu berkonsultasi dengan semua pemangku kepentingan demi membangun kualitas lembaga pendidikan Islam.[24] Dalam al-Qur’an surah al-Dzariyat ayat 56 berbunyi:
“ wa maa kholaqtu jinna wal insa illaa liya’buduun”
Dan ayat itu menjelaskan bahwa tujuan dari semuanya adalah untuk ibadah kepada Allah swt. Jadi dapat disimpulkan bahwa meskipun guru dan anggota organisasi lainnya diberikan wewenang untuk mengambil keputusan, tidak merubah keputusan awal yang disepakati. Maka kepala sekolah memegang peranan penting untuk selalu memastikan bahwa semuanya berjalan sesuai tujuan yang disepakati.
Prinsip dan unsur TQM di atas diimplementasikan pada lembaga pendidikan Islam. Maka implementasi TQM pada lembaga Islam dikatakan berhasil jika dapat ditemukan ciri – ciri sebagai berikut :
a. Tingkat konsistensi dalam memberikan pelayanan umum dan pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan peningkatan kualitas SDM terus meningkat.
b. Kekeliruan dalam bekerja yang berdampak menimbulkan ketidakpuasan dan komplain masyarakat yang dilayani semakin berkurang.
c. Disiplin waktu dan disiplin kerja semakin meningkat d. Inventarisasi aset organisasi semakin sempurna, terkendali dan tidak berkurang/hilang tanpa diketahui sebab – sebabnya.
d. Kontrol berlangsung efektif terutama dari atasan langsung melalui pengawasan melekat, sehingga mampu menghemat pembiayaan, mencegah penyimpangan dalam pemberian pelayanan umum dan pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
e. Pemborosan dana dan waktu dalam bekerja dapat dicegah.
f. Peningkatan ketrampilan dan keahlian bekerja terus dilaksanakan sehingga metode atau cara bekerja selalu mampu mengadaptasi perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai cara bekerja yang paling efektif, efisien dan produktif, sehingga kualitas produk dan pelayanan umum terus meningkat.
g. Memiliki lulusan (output) yang cerdas akal, spiritual, emosional dan seimbang antara hard skill dan soft skill serta aktif, kreatif dan inovatif dan adaptif terhadap perkembangan iptek dan lapangan kerja.[25]
4. Implikasi Total Quality Manajemen Pada Lembaga Pendidikan Islam
Peneparan TQM dalam lembaga pendidikan Islam tidak hanya meingkatkan kualitas, tetapi juga memberi dampak yang lain bagi lembaga pendidikan Islam. Diantaranya adalah:
a. Mempengaruhi semua segmen proses pendidikan seperti organisasi, manajemen, hubungan interpersonal, material, dan sumber daya manusia.
b. TQM dalam pendidikan memberikan kontribusi yang besar bagi kepala sekolah, guru, siswa, dan pemangku kepentingan sekolah lainnya untuk mengetahui peran masing-masing dan menghasilkan kepuasan pelanggan.
c. Dengan TQM dapat diketahui hambatan dan mencari pemecahan dari hambatan yang mungkin dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam.
d. TQM juga memberikan pengaruh langsung terhadap peningkatan komitmen dan semangat mengelola organisasi yang lebih besar pada setiap individu di lembaga pendidikan Islam. Hal ini berarti timbulnya dorongan dalam diri pendidik untuk berperan aktif dalam memberikan pendidikan yang berkualitas untuk siswanya. Sehingga guru dapat menghadirkan kegiatan belajar mengajar yang lebih berkualitas dan variatif. Dan memunculkan terobosan baru secaraterus-menerus.[26]
5. Hambatan Implementasi TQM Pada Lembaga Pendidikan Islam
Kendala terbesar dalam menerapkan TQM di lembaga pendidikan Islam adalah:
a. Kurangnya komitmen dari mereka yang terlibat dalam sistem pendidikan, terutama dari manajer puncak dan guru. Peran dari individu terutama guru, seringkali informal dan kurang birokratis dalam sistem pendidikan.[27]
b. Para pendidik mengandalkan intuisi, rutinitas, dan pengalaman untuk memecahkan masalah di sekolah. Namun tidak membantu mengevaluasi efektivitas sistem sekolah secara keseluruhan. Ini yang akhirnya menghambat proses perbaikan mutu lembaga pendidikan Islam.[28]
c. Kurangnya koordinasi antar departemen,
d. Kurangnya budaya perbaikan terus-menerus,
e. Penolakan karyawan terhadap peruahan.[29]
f. Kesulitan lainnya yang juga ditemukan adalah sulitnya menentukan kualitas produk (lulusan) yang bersifat kualitatif.[30]
Sedangkan pada faktor penentu berhasilnya TQM di lembaga pendidikan adalah komitmen manajer dan pemimpin, kepuasan pelanggan, keterlibatan karyawan, perbaikan terus-menerus, pelatihan, komunikasi, dan kerja sama tim. Juga kepuasan pelaku pendidikan seperti guru berdampak pada kepuasan pelanggan.[31]
C. Kesimpulan
1. Konsep Total Quality Manajemen (TQM)
Total quality manajemen (TQM) adalah suatu sistem manajemen yang melibatkan seluruh anggota organisasi untuk meningkatkan kualitas dan memberikan kepuasa kepada pelanggan
2. Total Quality Manajemen Pada Lembaga Pendidikan Islam
Lembaga pendidikan Islam perlu menerapkan TQM agar lembaga pendidikan Islam mampu bersaing, bertahan, dan diminati oleh pelanggan. Ini disebabkan karena setiap tahunnya pelanggan memiliki standar kualitas yang bisa berubah-ubah. Dan lembaga pendidikan Islam sebagai organisasi yang memberi pelayanan harus mampu memenuhi hal tersebut untuk bertahan.
3. Implementasi Total Quality Manajemen Pada Lembaga Pendidikan Islam
Total quality manajemen pada lembaga pendidikan Islam diimplementasikan dengan menerapkan upaya fokus pada pelanggan, obsesi terhadap kualitas, manajemen berdasarkan fakta, komitmen jangka panjang, kerjasama tim, pemberdayaan pegawai, perbaikan berkesinambungan, pelatihan buttom up, kebebasan yang terkendali, dan adanya kesatuan tujuan.
4. Implikasi Total Quality Manajemen Pada Lembaga Pendidikan Islam
Implikasi atau dampak dari penerapan TQM di lembaga pendidikan Islam adalah semua aspek pendidikan meninkat kualitasnya, kerja setiap anggota meningkat, mengetahui hambatan dan solusi, dan meningkatnya komitmen dan semangat organisasi.
5. Hambatan Implementasi TQM Pada Lembaga Pendidikan Islam
Hambatan dalam penerapan TQM di lembaga pendidikan Islam adalah kurangnya komitmen, tidak berdasarkan fakta, kurang koordinasi, kurang perbaikan, penolakan pada perubahan dan sulitnya menentukan kualitas lulusan.
DAFTAR PUSTAKA
Conference, International, and Digital Age, ‘MODEL TOTAL QUALITY MANAGEMENT PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM’, 2018, 117–24
Goetsch, David L, Quality Management: Introduction to TotalQUality Management for Production, Processing, and Service (New Jersey: Prentice-Hall, Inc., 2000)
Harjosoedarmo, Soewarno, Total Quality Management (Yogyakarta: Andi Offset, 2004)
Karageorgos, Christos, Athanasios Kriemadis, Antonios Travlos, and Dimitrios Kokaridas, ‘PLANNING AND IMPLEMENTING TOTAL QUALITY MANAGEMENT IN EDUCATION : THE CASE OF CYPRUS’, 2 (2021), 1–12 <https://doi.org/10.12928/ijemi.v2i1.2627>
Khadijah, Ifah, ‘MANAJEMEN MUTU TERPADU (TQM) PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM’
Kigozi, Edward, James Ko, and Yuen On, ‘Total Quality Management ( TQM ) Practices Applied in Education Institutions : A Systematic Review of Literature Total Quality Management ( TQM ) Practices Applied in Education Institutions : A Systematic Review of Literature’, 2020 <https://doi.org/10.20533/ijibs.2046.3626.2019.0045>
Lee, M, ‘Relationships among Service Quality, Customer Satisfaction and Profitability in the Taiwanese Banking Industry’, International Journal of Management, 22 (2005)
Massy, W, ‘Honoring the Trust: Quality and Cost Containment in Higher Education’, Anker Publication, 2003
Melan, E, ‘Process Mamgetnent—methods for Improving Products and Service’, 1993
Munro, Lesley, Menerapkan Manajemen Mutu Terpadu (Jakarta: Gramedia, 2002)
Priarni, Rina, ‘APLIKASI TOTAL QUALITY MANAGEMENT DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM’, 1 (2017), 185–201
Salleh, Norliza Mohd, Norhayati Zakuan, and Mohd Shoki Ariff, ‘Critical Success Factors of Total Quality Management Implementation in Higher Education Institution : UTM Case Study’, 20007 (2018) <https://doi.org/10.1063/1.5080060>
Sallis, Edward, ‘TOTAL QUALITY MANAGEMENT ( TQM ) PADA LEMBAGA’, 2006
Savary, L, ‘Creating Quality Schools. American Association of School Administrators’, 2008
Soewarno, Pengantar Studi Ilmu Administrasi Dan Manajemen (Jakarta: CV Haji Masagung, 2002)
Talib, Faisal, ‘Analysis of Interaction among the Barriers to Total Quality Management Implementation Using Interpretive Structu ... the Barriers to Total Quality Using Interpretive Structural’ <https://doi.org/10.1108/14635771111147641>
Tjiptono, Fandy, TQM Total Quality Management (Yogyakarta: ANDI, 2002)
Veithzal, Rivai, Education Managemnt (Jakarta: Rajawali Press, 2010)
Wibowo, Arie, and Khurniawan Correspoding, ‘An Analysis of Implementing Total Quality Management in Education : Succes and Challenging Factors’, 10 (2020), 44–59 <https://doi.org/10.5296/ijld.v10i2.17270>
[1] Lesley Munro, Menerapkan Manajemen Mutu Terpadu (Jakarta: Gramedia, 2002). 6.
[2] David L Goetsch, Quality Management: Introduction to TotalQUality Management for Production, Processing, and Service (New Jersey: Prentice-Hall, Inc., 2000). 47.
[3] Fandy Tjiptono, TQM Total Quality Management (Yogyakarta: ANDI, 2002). 4.
[4] Tjiptono. 6.
[5] Tjiptono. 14.
[6] Tjiptono. 19-21.
[7] Rivai Veithzal, Education Managemnt (Jakarta: Rajawali Press, 2010). 483-484.
[8] Edward Sallis, ‘TOTAL QUALITY MANAGEMENT ( TQM ) PADA LEMBAGA’, 2006.
[9] M Lee, ‘Relationships among Service Quality, Customer Satisfaction and Profitability in the Taiwanese Banking Industry’, International Journal of Management, 22 (2005). 635-648.
[10] L Savary, ‘Creating Quality Schools. American Association of School Administrators’, 2008.
[11] Soewarno Harjosoedarmo, Total Quality Management (Yogyakarta: Andi Offset, 2004). 39-40.
[12] International Conference and Digital Age, ‘MODEL TOTAL QUALITY MANAGEMENT PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM’, 2018, 117–24.
[13] Arie Wibowo and Khurniawan Correspoding, ‘An Analysis of Implementing Total Quality Management in Education : Succes and Challenging Factors’, 10.2 (2020), 44–59 <https://doi.org/10.5296/ijld.v10i2.17270>.
[14] Rina Priarni, ‘APLIKASI TOTAL QUALITY MANAGEMENT DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM’, 1.1 (2017), 185–201.
[15] Christos Karageorgos and others, ‘PLANNING AND IMPLEMENTING TOTAL QUALITY MANAGEMENT IN EDUCATION : THE CASE OF CYPRUS’, 2.1 (2021), 1–12 <https://doi.org/10.12928/ijemi.v2i1.2627>.
[16] Savary.
[17] Norliza Mohd Salleh, Norhayati Zakuan, and Mohd Shoki Ariff, ‘Critical Success Factors of Total Quality Management Implementation in Higher Education Institution : UTM Case Study’, 20007 (2018) <https://doi.org/10.1063/1.5080060>.
[18] E Melan, ‘Process Mamgetnent—methods for Improving Products and Service’, 1993.
[19] Sallis. 77.
[20] Priarni.
[21] Soewarno, Pengantar Studi Ilmu Administrasi Dan Manajemen (Jakarta: CV Haji Masagung, 2002).
[22] Priarni.
[23] Priarni.
[24] Edward Kigozi, James Ko, and Yuen On, ‘Total Quality Management ( TQM ) Practices Applied in Education Institutions : A Systematic Review of Literature Total Quality Management ( TQM ) Practices Applied in Education Institutions : A Systematic Review of Literature’, 2020 <https://doi.org/10.20533/ijibs.2046.3626.2019.0045>.
[25]Ifah Khadijah, ‘MANAJEMEN MUTU TERPADU (TQM) PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM’.
[26] Wibowo and Correspoding.
[27] W Massy, ‘Honoring the Trust: Quality and Cost Containment in Higher Education’, Anker Publication, 2003.
[28] An implementasiWibowo and Correspoding. 82
[29] Faisal Talib, ‘Analysis of Interaction among the Barriers to Total Quality Management Implementation Using Interpretive Structu ... the Barriers to Total Quality Using Interpretive Structural’ <https://doi.org/10.1108/14635771111147641>.
[30] Khadijah.
[31] Salleh, Zakuan, and Ariff.
Komentar
Posting Komentar