KONSEP MUTU DAN MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN ISLAM
KONSEP MUTU DAN MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN ISLAM
Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah
“Manajemen Mutu Pendidikan Islam”
Dosen Pengampu:
Dr. Moh. Miftachul Choiri, M.A
Disusun oleh:
Nurul Firliani
MPI B1
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
PASCA SARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO
2021
A. Pendahuluan
Masalah yang sering diperbincangkan dalam dunia pendidikan dewasa ini
adalah lengahnya pengelola lembaga pendidikan yang mencakup semi komponen
sistem pendidikan. mulai dari pengelolaa KBM yang berakibat daya saing lulusan,
pengelolaan kepegawaian, pengelolaan sarana prasarana, pengelolaan kurikulum,
dan pengelolaan keuangan.
1
permasalahan tersebut terjadi karena belum adanya
sumber daya kompeten di bidangnya. Di sisi lain kualitas Pendidikan merupakan
upaya terus menerus dalam lembaga pendidikan Islam karena dengan upaya itulah
pendidikan akan menjadi pusat pengembangan SDM yang profesional di tengahtengah
masyarakat.
2
Masyarakat dihadapkan pada kurangnya perhatian pemerintah
dalam menghadapi tantangan ini hal tersebut terindikasi dari kecilnya realisasi
alokasi dana yang digulirkan untuk sektor dunia pendidikan.
Dunia pendidikan sedang ditantang untuk menjawab tiga hal; kemampuan
memenuhi kebutuhan, kemampuan mengembangkan hidup yang bermakna, dan
kemampuan memuliakan hidup, disisi lain pendidikan juga dihadapkan pada
globalisasi, yang ditandai dengan adanya industrialisasi pendidikan.
3
Peningkatan
mutu pendidikan menjadi prioritas utama di semua lembaga pendidikan. Demikian
pula di lembaga pendidikan Islam yang sementara berproses menjadi lembaga
pendidikan yang memiliki kualitas setara dengan lembaga pendidikan lain bahkan
menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas tinggi. Untuk mencapai hal tersebut,
maka upaya terus dilakukan oleh lembaga pendidikan Islam. Salah satu upayanya
adalah dengan menerapkan berbagai teori dan konsep manajemen mutu agar
kualitas pendidikan dapat terjaga dan diakui sebagai lembaga pendidikan yang
menjalankan proses dengan baik dan menghasilkan output yang baik.
Ada beberapa konsep peningkatan mutu/kualitas yang dikemukakan para ahli
seperti Edward Deming dan Joseph Juran yang berkaitan dengan perencanaan
mutu, pengendalian dan peningkatan mutu. Makalah ini akan membahas tentang
1
Marzuki Mahmud, Manajemen Mutu Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada,
2012), h. 3.
2
Ahmadi Syukran Nafis, Manajemen Pendidikan Islam, (Yogyakarta, LaksBang PressIndo, 2012),
h. 11-12.
3
Hamalik, Oemar. 2007. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.
1
beberapa konsep mutu dari kedua tokoh di atas dan relevansinya pada lembaga
pendidikan Islam dalam menjawab tantangan pendidikan nasional.
B. Pembahasan
1. Konsep Mutu
Secara singkat mutu dapat diartikan: kesesuaian penggunaan atau
kesesuaian tujuan atau kepuasan pelanggan atau pemenuhan terhadap
persyaratan (Customer satisfaction). Mutu dari segi proses mengandung arti
efektivitas atau ketepatan dan efisiensi keseluruhan faktor-faktor atau unsurunsur
yang berperan dalam proses pendidikan. Tingkat kemampuan lulusan
seperti aspek penguasaan ilmu, keterampilan, dan kecakapan lulusan akan
bergantung pada layanan yang didapatkan selama proses pembelajaran baik
layanan proses dari guru yang berkualitas, layanan saran dan prasarana yang
mendukung, serta lingkungan pendidikan yang mendorong terciptanya iklim
pendidikan yang berkualitas. Susanto menjelaskan bahwa pendidikan dikatakan
bermutu bila digunakan alat ukur yaitu indikator mutu yang dapat dibedakan
menjadi lima jenis, yaitu: 1) mutu masukan; 2) mutu proses; 3) mutu output; 4)
mutu SDM; 5) mutu fasilitas.
Instrumental
Input
- Kebijakan
- Program
- Sarana/fasilitas
Proses Pendidikan
- Pengajaran
- Pelatihan
- Bimbingan
- Ekstrakulikuler
Output
-Pengetahuan
Raw Input
- Intelek
- Fisik
- Kepribadian
- Performa
- Evaluasi
- Sosial-Afektif
- Peer Group
- Pengelolaan
Environmental
Input
- Lingkungan
Sekolah
- Lingkungan
Keluarga
- Masyarakat
- Lembaga Sosial
Bagan 1. Indikator Mutu
2
Dari gambar tersebut terlihat bahwa mutu pendidikan bersifat menyeluruh,
menyangkut semua komponen, pelaksana dan kegiatan pendidikan. Pendi
Susanto mengungkapkan banyak masalah mutu yang dihadapi dunia
pendidikan, seperti mutu lulusan, mutu pengajaran, bimbingan dan latihan guru,
serta mutu profesionalisme dan kinerja guru.
4
Mutu-mutu tersebut terkait
dengan mutu manajerial para pimpinan pendidikan, keterbatasan dana, sarana
dan prasarana, fasilitas pendidikan, media, sumber belajar, alat dan bahan
latihan, iklim sekolah, lingkungan pendidikan, kelemahan mutu dari
komponen-komponen tersebut berujung pada rendahnya mutu lulusan.
5
2. Konsep Mutu Edward Deming
Edward Deming (1986) berpendapat bahwa meskipun kualitas mencakup
kesesuaian atribut produk dengan tuntutan konsumen, namun kualitas harus
lebih dari itu.
6
Demikian pula pendapat Deming sebagaimana dikutip Kambey
yang menyatakan bahwa permasalahan utama kualitas/mutu secara mendasar
berkaitan dengan manajemen. Konsep Mutu Edwar Deming menyatakan bahwa
bahwa peningkatan kualitas berawal dari tujuan, melakukan perbaikan terus
menerus dengan memfokuskan pada pendidikan dan latihan pada staf agar
pelaksanaan setiap kegiatan dapat berjalan baik dengan jaminan kualitas yang
terjaga. Semua itu terbangun dan berjalan maksimal jika faktor kepemimpinan
secara kelembagaan dan struktural mampu menggerakan staf dengan baik untuk
mencapai tujuan. Oleh karena itu, Deming mengemukakan 14 poin penting
yang dapat menuntun manager mencapai perbaikan dalam kualitas yaitu:
1) Menciptakan kepastian tujuan perbaikan produk dan jasa;
2) Mengadopsi filosofi baru dimana cacat tidak bisa diterima;
3) Berhenti tergantung pada inspeksi massal;
4
Pendi Susanto, Produktivitas Sekolah, Teori dan Praktik di Tingkat Satuan Pendidikan,
(Bandung: Alfabeta, 2016), h. 154
5
Nana Syaodih Sukmadinata, dkk., Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah: Konsep,
Prinsip dan Instrumen, (Bandung: Kusuma Karya, 2002), h. 8.
6
Umar, Mardan, and Feiby Ismail. “Peningkatan Mutu Lembaga Pendidikan Islam (Tinjauan
Konsep Mutu Edward Deming Dan Joseph Juran).” Jurnal Ilmiah Iqra’ 11, no. 2 (2018).
https://doi.org/10.30984/jii.v11i2.581.
3
4) Menghentikan praktek penghargaan atas dasar harga saja;
5) Secara tetap dan berkelanjutan memperbaiki sistem produksi dan jasa;
6) Mengadakan pelatihan kerja modern;
7) Membentuk kepemimpinan;
8) Menghilangkan ketakutan;
9) Singkirkan penghalang antar depertemen;
10) Hilangkan/kurangi tujuan-tujuan, target jumlah pada pekerja;
11) Hilangkan manajemen berdasarkan sasaran;
12) Hilangkan rintangan yang merendahkan pekerja berdasarkan penilaian;
13) Melembagakan program pendidikan dan pelatihan;
14) Menciptakan struktur dalam manajemen puncak yang dapat
melaksanakan transformasi.
Deming mempopulerkan siklus manajemen yang menjadi acuan dalam
kegiatan penjaminan mutu yaitu Plan, Do, Check, Action (PDCA). Tahapan ini
diawali dari “Plan” atau membuat perencanaan, “Do” atau kegiatan
melaksanakan rencana, “Check” atau kegiatan evaluasi semua aktivitas yang
telah dilaksanakan, serta “Action” atau tindak lanjut.
7
Perencanaan/ “Plan”,
merupakan kegiatan meliputi penetapan standar, terutama terkait dengan
standar kinerja pendidik/guru, pengalam belajar, standar hasil belajar peserta
didik. Selanjutnya “Do”, Pelaksanaan proses pendidikan (proses pembelajaran)
yang sesuai dengan standar kinerja agar peserta didik dapat mencapai
pengalaman belajar dan hasil yang diharapkan. “Check” atau Evaluasi
merupakan upaya membandingkan pelaksanaan proses dengan standar yang
ditetapkan, apakah sudah sesuai atau terdapat kekurangan yang akan ditindak
lanjuti dalam action yakni perbaikan lanjutan berdasarkan hasil evaluasi.
7
Daniel C. Kambey, Manajemen Kualitas Total dalam Pendidikan (Terjemahan Buku Total
Quality Management, Edward & Sallis), (Pascasarjana Universitas Negeri Manado, 2004), h. 3638.
4
3. Konsep Mutu Joseph Juran
Joseph Juran memiliki keyakinan bahwa masalah kualitas dapat ditelusuri
sampai pada keputusan-keputusan manajemen. Menurut Juran, 85% dari
permasalahan-permasalahan kualitas/mutu organisasi disebabkan karena
proses-proses yang dirancang dengan buruk.
8
Oleh karena itu, perlu adanya
perencanaan kualitas yang baik seperti disebut Juran sebagai Strategic Quality
Management yaitu proses perbaikan kualitas. Konsep Juran yang terkenal yaitu
Trilogi Juran (1989) menyebutkan bahwa manajemen mutu terdiri dari tiga
bagian pokok, yaitu: (a) perencanaan mutu, (b) pengendalian mutu, dan (c)
peningkatan mutu.
9
Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar berikut.
Perencanaan
Kualitas
(Quality Planning)
Pengendalian
Kualitas
(Quality Control)
Perbaikan Qualitas
(Quality
Impovement)
Bagan 2. Konsep Trilogi Juran
Dalam gambar ini, Juran menggambarkan sebuah sistem manajemen mutu
yang berkaitan antara perencanaan, pengendalian dan perbaikan atau
peningkatan kualitas. Isi pokok perencanaan mutu ialah mengidentifikasi
kebutuhan-kebutuhan pelanggan, menerjemahkan kebutuhan itu ke dalam
program kegiatan, dan menyusun langkah-langkah dalam proses pelaksanaan
8
Umar, Mardan, and Feiby Ismail. “Peningkatan Mutu Lembaga Pendidikan Islam (Tinjauan
Konsep Mutu Edward Deming Dan Joseph Juran).” Jurnal Ilmiah Iqra’ 11, no. 2 (2018).
https://doi.org/10.30984/jii.v11i2.581.
9
Joseph Juran., “The Juran Trilogy”, Quality Progress, Vol. 19, No. 8, 1986. h. 19.
5
program untuk menghasilkan produk yang bermutu. Menurut Juran Kualitas
adalah kesesuaian untuk penggunaan (fitness for use), ini berarti bahwa suatu
produk atau jasa hendaklah sesuai dengan apa yang diperlukan atau diharapkan
oleh pengguna.
10
Perencanaan mutu menjadi proses awal dalam suatu siklus manajemen
kualitas. Trilogi Juran (1986) menunjukkan tiga proses penting yang saling
terkait, yaitu perencanaan kualitas quality planning, quality control, dan quality
improvement. Tahap perencanaan kualitas menyangkut penentuan kebutuhan
customer dan pengembangan produk beserta proses yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan konsumen. Pengendalian kualitas menjadi proses penting
untuk memastikan bahwa realisasi operasional produksi sesuai dengan
perencanaan yang telah ditetapkan. Peningkatan kualitas menjadi suatu proses
bagi perusahaan untuk memperoleh konsumen dan menjadikannya sebagai
pelanggan tetap. Usaha untuk peningkatan kualitas tidak terlepas dari
perencanaan kualitas, karena kualitas yang baik disebabkan oleh perencanaan
yang tepat.
Proses perencanaan kualitas merupakan penetapan design, layanan, atau
proses yang dibutuhkan custormer, usaha, dan kebutuhan operasional untuk
menghasilkan produk sebelum diproduksi (Juran, 1993). Pendekatan Juran
terhadap perencanaan kualitas (quality planning) melibatkan beberapa aktivitas
yakni:
1) Identifikasi pelanggan;
2) Menentukan kebutuhan pelanggan;
3) Menciptakan keistimewaan produk yang dapat memenuhi kebutuhan
pelanggan;
4) Menciptakan proses yang mampu menghasilkan keistimewaan produk
di bawah kondisi operasi;
5) Mentransfer/mengalihkan proses ke operasi.
10
Daniel C. Kambey, Manajemen Kualitas Total dalam Pendidikan (Terjemahan Buku Total
Quality Management, Edward & Sallis), (Pascasarjana Universitas Negeri Manado, 2004), h. 3638.
6
4. Mutu Pendidikan Islam
Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar yang diarahkan untuk
mematangkan potensi fitrah manusia, agar setelah tercapai kematangan itu, ia
mampu memerankan diri sesuai dengan amarah yang disandangnya, serta
mampu mempertanggung jawabkan pelaksanaan kepada Sang Pencipta.
Kematangan disini dimaksudkan sebagai gambaran dari tingkat perkembangan
optimal yang dicapai oleh setiap Dalam pendidikan, seseorang diharapkan
mampu melakukan apa-apa yang sesuai dengan lingkungannya, tidak menyalai
aturan yang ada, karena dengan pendidikan seseorang dapat mengetahui apa
yang harus dilakukan dan yang tidak dilakukan. Hal ini akan menjadikan orang
tersebut memiliki sifat yang baik dalam melangsungkan kehidupannya.
11
Penididkan Islam harus diselenggarakan dan dilaksanakan dengan tujuan
untuk membentuk dan membina karakter manusia supaya menjadi insan kamil
yang beriman, bertakwa dan berakhlaq kepada Allah SWT berdasarkan fitrah
yang dibawanya sejak lahir.
12
Fitrah yang dibawa manusia sejak dalam
kandungan merupakan perwujudan komitmen antara manusia sebagai makhluk
dan Allah sebagai Khaliknya.
13
Komitmen yang sudah terbentuk harus
diperkuat agar manusia tetap lurus mengikuti perintah Allah sebagai tujuan
dalam penciptaanNya seperti makna yang tertuang didalam QS :30 ayat 30.
ﻋﻠﯿﮭﺎ ﻻ ﺗﺒﺪﯾﻞ
ﻓﺄﻗﻢ وﺟﮭﻚ ﻟﻠﺪﯾﻦ ﺣﻨﯿﻔﺎ ﻓﻄﺮت ٱ= ٱﻟﺘﻰ ﻓﻄﺮ ٱﻟﻨﺎس
14
ﻻ ﯾﻌﻠﻤﻮن
ﻟﻨﺎس ٱ
وﻟﻜﻦ أﻛﺜﺮ
ﻟﻘﯿﻢ ٱ
ﻟﺪﯾﻦ ٱ ذﻟﻚ
=ٱ
ﻟﺨﻠﻖ
11
Achyar, Achyar. “Konsep Manajemen Mutu Terpadu Dan Implementasinya Dalam Pendidikan
Islam Studi Kasus Di Pondok Pesantren Darul Muttaqien Bogor.” Tawazun: Jurnal
Pendidikan Islam 10, no. 2 (2019): 193. https://doi.org/10.32832/tawazun.v10i2.1161.
12
Mustadi, Ali. “Penanaman Nilai-Nilai Agama Dalam Pembentukan Sikap Dan Perilaku Siswa
Sekolah Dasar Islam Terpadu Luqman Al-Hakim Yogyakarta.” Jurnal Penelitian Dan
Evaluasi Pendidikan 8, no. 1 (2006): 1–15. https://doi.org/10.21831/pep.v8i1.2008.
13
Mahsun, Ali. “PENDIDIKAN ISLAM DALAM ARUS GLOBALISASI: Sebuah Kajian
Deskriptif Analitis.” Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman 8, no. 2 (2013).
https://doi.org/10.21274/epis.2013.8.2.259-278.
14
[Quran 30:30] Shared via Al Quran App : http://www.QuranInternet.com/app
7
Tujuan pendidikan Islam bertitik tolak dari konsep penciptaan manusia
sebagai khalifah dan fitrah manusia itu sendiri yang dalam Al-qur’an
menempati posisi yang istimewa sebagai khalifatu fil’ardhi (wakil Allah)
dengan tugas dan fungsi keberadanya di dunia untuk pengabdian dan ibadah
kepada Allah SWT. Menurut Muhammad A. Naquib Al-Attas, pendidikan
Islam ialah usaha yang dilakukan pendidik terhadap anak didik untuk
pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di
dalam tatanan penciptaan. Sehingga, membimbing ke arah pengenalan dan
pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan
kepribadian.
Dalam hal kepemimpinan dan sumber daya manusia juga menjadi problem
tersendiri yakni masih banyak yang belum memenuhi kualifikasi akademik
minimal yang dipersyaratkan. Hal ini menuntut para pendidik dan tenaga
kependidikan mengikuti pendidikan, akan tetapi realitasnya masih jauh dari
harapan peningkatan kualitas karena tujuannya baru sekadar memenuhi
tuntutan Undang-undang. Demikian pula dengan aspek finansial yang masih
membutuhkan dukungan dari berbagai pihak serta pengembangan lembaga
pendidikan Islam agar lebih profesional.
Plan, Do, Check, Action (PDCA) juga perlu diterjemahkan dalam
pengelolaan lembaga pendidikan Islam. Perencanaan, pelaksanaan, evaluasi
dan tindak lanjut menjadi alat kontrol bagi setiap elemen dalam menjaga mutu
pendidikan Islam. Perencanaan, pelaksanaan, evaluasi pendidikan Islam
diarahkan pada penyiapan lulusan yang berkualitas dengan landasan nilai-nilai
Islam.
Merujuk pada Trilogi Juran, mutu lembaga pendidikan Islam dapat
ditingkatkan dengan melakukan pembenahan pada aspek perencanaan
mutu/kualitas, pengendalian mutu/kualitas, dan peningkatan mutu/kualitas. Isi
pokok perencanaan mutu ialah mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan
masyarakat terhadap lembaga pendidikan Islam seperti pesantren dan
madrasah. Apa yang diharapkan dari lulusannya serta kebutuhan apa yang
mendesak dihadapi oleh umat Islam. Selanjutnya, lembaga pendidikan Islam
harus menerjemahkan kebutuhan itu ke dalam program kegiatan, dan menyusun
8
langkah-langkah dalam proses pelaksanaan program untuk menghasilkan
peserta didik yang bermutu.
Tahapan pengendalian mutu dalam pendidikan Islam dapat dimaknai
sebagai proses untuk memastikan bahwa implementasi program telah terlaksana
dengan baik. Aspek operasional berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah
ditetapkan. Peserta didik mampu menunjukkan harapan-harapan yang
ditetapkan dalam standar kompetensi lulusan. Kemudian sebagai tindak lanjut,
perlu adanya evaluasi untuk peningkatan kualitas menjadi suatu proses bagi
lembaga menjaga kualitas dan meningkatkan dengan melakukan terobosan baru
yang sesuai dengan tuntutan zaman.
Kurikulum pendidikan Islam harus mampu menjawab tantangan zaman,
sehingga perlu dilakukan pengembangan kurikulum pendidikan Islam secara
terus menerus. Pembenahan aspek materi pelajaran yang up to date, revisi
model dan metode pembelajaran yang dilakukan secara bersamaan dengan
peningkatan kualitas guru di madrasah dan pesantren. Pembelajaran lebih
mengarah pada pemecahan masalah aktual di masyarakat didasarkan pada
landasan Al-Qur’an dan Hadis. Sehingga pendidikan Islam menjadi jawaban
atas permasalahan yang dihadapi. Hal ini akan meningkatkan daya tarik
lembaga pendidikan Islam. Pemenuhan sarana dan prasarana juga tidak kalah
pentingnya. Pengembangan materi agama dalam tinjauan teori ilmiah modern
perlu dikedepankan sebagai penguatan bagi peserta didik dan menghasilkan
lulusan yang marketable.
C. Kesimpulan
Peningkatan mutu pendidikan adalah suatu isu sentral yang perlu diperhatikan
secara terus menerus. Pertumbuhan ekonomi, perkembangan zaman dengan era
teknologi dan informasi serta pergerakan isu sosial dan budaya menjadi beberapa
faktor yang menjadi penyebab adanya perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan.
Tidak hanya untuk mencapai standar pendidikan, namun juga untuk menjawab
tantangan zaman, menyikapi tuntutan dunia modern agar lulusan sebuah lembaga
pendidikan menjadi lebih siap menghadapi keadaan sebenarnya di masyarakat.
9
Lembaga pendidikan Islam harus meningkatkan kualitas pendidikannya mulai
dari tingkatan Madrasah Diniyah, Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah
(MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), sampai pada
pendidikan tinggi agama Islam seperti STAIN/IAIN/UIN. Memadukan konsep
Edward Deming yaitu Plan, Do, Check, Action (PDCA) dan Trilogi Juran
pengelolaan lembaga pendidikan Islam perlu diarahkan pada peningkatan mutu
dengan melakukan pembenahan pada aspek perencanaan mutu/kualitas,
pengendalian mutu/kualitas, dan peningkatan mutu/kualitas. Hal tersebut dapat
diupayakan dengan meninjau kembali aspek kurikulum pendidikan Islam, materi
pelajaran, model dan metode pembelajaran, kualitas pendidik dan tenaga
kependidikan, kepemimpinan, serta pemenuhan sarana dan prasarana. Dengan
demikian, diharapkan lembaga pendidikan Islam dapat mengalami peningkatan
mutu dan mencapai standar pendidikan nasional sebagai upaya menjawan
tantangan global.
10
Daftar Pustaka
Achyar, Achyar. “Konsep Manajemen Mutu Terpadu Dan Implementasinya Dalam
Pendidikan Islam Studi Kasus Di Pondok Pesantren Darul Muttaqien Bogor.”
Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam 10, no. 2 (2019): 193.
https://doi.org/10.32832/tawazun.v10i2.1161.
Asmuni. “Konsep Mutu Dan.” Konsep Mutu Dan Total Quality Manajemen XVIII,
no. 01 (2013): 16–42.
Deming, W.E., Out of the Crisis, MIT Center for Advanced Engineering Study,
Cambridge, MA, 1986.
Ismail, F. “Implementasi Total Quality Management (TQM) di Lembaga
Pendidikan”, Jurnal Pendidikan Islam IQRA,Vol.2. Nomor 2. (17-34). 2016.
Juran, J. M., Management of Quality, Juran Institute, Inc, Wilton. 1987.
Juran, J., 1986. “The Juran Trilogy”, Quality Progress, vol. 19, no. 8, Aug. 1986,
pg. 19.
Juran, J.M, Merancang Mutu, Terjemahan Bambang Hartono dari Juran On Quality
By
Design,
Jakarta:
PT.
Pustaka
Binawan
Pressindo,1989.
Kambey, Daniel C., Manajemen Kualitas Total dalam Pendidikan
(Terjemahan Buku Total Quality
Management, Edward & Sallis), Pascasarjana Universitas Negeri Manado, 2004.
Marzuki Mahmud, Manajemen Mutu Perguruan Tinggi, akarta: PT. RajaGrafindo
Persada, 2012.
Nafis, Ahmadi Syukran. Manajemen Pendidikan Islam, Yogyakarta, LaksBang
PressIndo, 2012.
Rosyada, Dede. Madrasah dan Profesionalisme Guru, Depok, Kencana, 2017.
Sallis, E. Total Quality in Education, London, Kogan Page Limited, 2016.
Sani, Ridwan Abdullah. dkk, Penjaminan Mutu Sekolah,(Jakarta: Bumi Aksara,
2015.
11
Sukmadinata, Nana Syaodih. dkk., Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah
Menengah: Konsep, Prinsip dan Instrumen, (Bandung: Kusuma Karya, 2002.
Susanto, Pendi., Produktivitas Sekolah, Teori dan Praktik di Tingkat Satuan
Pendidikan, Bandung: Alfabeta, 2016.
Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa
Indonesia Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 2008.
Umar, Mardan, and Feiby Ismail. “Peningkatan Mutu Lembaga Pendidikan Islam
(Tinjauan Konsep Mutu Edward Deming Dan Joseph Juran).” Jurnal Ilmiah
Iqra’ 11, no. 2 (2018). https://doi.org/10.30984/jii.v11i2.581.
12
Komentar
Posting Komentar